FacebookMySpaceTwitterDiggStumbleuponGoogle BookmarksLinkedinRSS Feed
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Print

Menuntut Ilmu, Saling Bertukar Budaya: Menjadi Pelajar Sementara di Negeri Tetangga

Written by Haslan Ottot.

Menuntut Ilmu, Saling Bertukar Budaya: Menjadi Pelajar Sementara di Negeri Tetangga

PontianakPost-f boks 1 699769971
Ket Photo: BUDAYA: Penampilan mahasiswa Indonesia pada acara International Cultural Festival 2013. (Kanan) Kampus Universiti Malaysia Sarawak. ISTIMEWA

Universiti Malaysia Sarawak (Unimas) berada di Kota Samarahan, sekitar 30 kilometer dari Kuching. Kota Samarahan dikenal dengan Bandar Ilmu yang dalam bahasa Indonesia berarti Desa Ilmu karena merupakan daerah sentral pendidikan di wilayah Sarawak. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Untan Andi Gunawan, Dahrul Effendi, Oky Basri, Ellen Octaviani, Juvisnti, Marlisa, Mega Natalia, Melyanti Theresia, Monica Apriyana Limas dan Yuvika, beruntung bisa menimba ilmu di sana. Berikut catatannya.

SELAIN Unimas di Kota Samarahan terdapat juga perguruan tinggi seperti Universiti Teknologi MARA, Institut Latihan Perindustrian Kota Samarahan (ILPKS) dan Institut Pelatihan Guru. Oleh sebab itu, atmosfir pendidikan di Kota Samarahan sangat terasa karena jauh dari daerah perindustrian.
Kami tinggal di Desa Ilmu, Kota Samarahan, tidak begitu jauh dari Kampus Unimas. Kami tinggal di rumah sewaan dengan system sharing. Satu kamar untuk bertiga. Untuk pergi ke kampus, kami perlu berjalan kaki terlebih dahulu ke tempat perhentian bus.

Suasana yang dirasakan di tempat tinggal ini cukup nyaman dan tenang. Kami dapat berbaur dengan mahasiswa lokal yang juga menyewa kamar di sana. Untuk mencari makan, kami pun tidak terlalu susah karena terdapat banyak penjual makanan di seputaran Desa Ilmu ini. Untuk ke kota, memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Kita dapat menaiki bus atau angkot trayek Kota Samarahan Kuching yang berkode Zon 4. Kita juga dapat menyewa mobil.
Merupakan suatu keberuntungan bagi kami mahasiswa kelas internasional Universitas Tanjungpura Pontianak untuk dapat menikmati kesempatan menjadi peserta pertukaran pelajar di salah satu universitas negeri Malaysia selama satu semester.

Universiti Malaysia Sarawak merupakan salah satu universitas terbaik di Malaysia. Dengan wilayah yang sangat luas, universitas dengan delapan fakultas ini memiliki World Class Facilities yang disediakan oleh pihak pemerintah Malaysia yang begitu peduli akan pendidikan sebagai fasilitas pendukung belajar mengajar. Mulai dari ruang kelas berstandar internasional, convention center, perpustakaan, asrama, shuttle bus, gymnasium, stadium olahraga, kolam renang, lapangan olahraga (basket, voli, tennis, squash), bowling center, kantin, dan kafetaria.

Dalam hal fasilitas secara umum, pengadaan World Class Facilities ini mungkin diupayakan oleh pihak pemerintah Malaysia selain untuk memaksimalkan penggunaan lahan, juga merupakan upaya untuk menjadikan Unimas sebagai universitas berstandar internasional. Hal ini juga dibuktikan dengan dibukanya jalur penerimaan atas mahasiswa internasional dari berbagai belahan dunia. Ada pun sistem pembelajaran yang menggunakan kurikulum berstandar internasional dengan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar utama dan staff pengajar yang merupakan lulusan luar negeri yang berkualitas dan berkompeten. Kualitas menjadi prioritas utama untuk menghasilkan lulusan terbaik yang akan terjun ke dunia kerja di masa yang akan datang.

Tidak lupa kami tentu akan membahas mengenai tempat di mana kami belajar. Kami ditempatkan di Fakultas Ekonomi dan Perniagaan (Faculty of Economics and Business). Gedung fakultas ini terdiri dari 4 tingkat di mana tingkat pertama dan kedua merupakan ruang belajar. Sedangkan tingkat berikutnya merupakan ruang dosen. Dilengkapi lab. komputer, student lobby, ruang multimedia membuat kami merasa nyaman untuk melakukan kegiatan di luar perkuliahan. Biasanya pameran poster mengenai penelitian mahasiswa akhir juga dipamerkan di lobby. Tidak hanya itu, dispenser juga tersedia di kampus ini. Hal ini sungguh membantu dikarenakan cuaca di Malaysia yang panas sehingga mudah terserang dehidrasi.

Di sini kami juga dipencar dalam jurusan yang berbeda, yakni jurusan pemasaran (Marketing), keuangan (Finance), ekonomi industry (Industrial Economics) dan ekonomi internasional (International Economics) agar kami bisa berbaur dengan mahasiswa local dan internasional. Masing-masing jurusan memiliki beban tersendiri. Mahasiswa sangat dituntut selalu membaca buku teks untuk lebih memahami materi kuliah yang diambil. Awalnya, kami mengalami kesulitan karena semua buku teks hanya tersedia dalam bahasa Inggris, sehingga perlu membaca lebih dari sekali untuk memahami penjelasan tersebut. Selain itu, dalam tiap mata kuliah pasti memiliki tugas akhir yang dikerjakan dalam kelompok. Tugas kelompok ini juga harus dikerjakan dengan baik di karenakan adanya beberapa dosen yang sangat perfeksionis dalam penilaian. Selain dikerjakan dalam bentuk tertulis, nantinya mahasiswa juga harus mempresentasikan apa yang mereka tulis.

Pergaulan Internasional
Salah satu kegiatan yang paling berkesan selama program exchange ke UNIMAS adalah International Cultural Night, yang dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2013. Disana kami bekerja sama dengan mahasiswa tetap di UNIMAS yang juga berasal dari Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, kami mencoba memperkenalkan berbagai macam budaya yang ada di Indonesia seperti, video keindahan alam Indonesia, tarian tradisional dari Bali, fashion show baju daerah dan paduan suara dengan membawakan lagu nasional dan daerah yaitu Tanah Air dan Yamko Rambe Yamko.
Selain dari Indonesia, peserta acara juga berasal dari negara lain, yaitu China, Bangladesh, Jerman, India, Turbekiztan, Kazakhstan, Prancis, dan masih banyak negara yang lain. Dari acara ini kami bisa saling bertukar kebudayaan dari masing–masing negara yang dapat menambah wawasan kami. Selain itu, acara ini juga merupakan salah satu pengalaman berharga bagi kami karena kami dapat ikut serta memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke dunia luas.

Kehidupan sehari-hari di luar kampus pada awalnya terasa berat. Kami harus tinggal di luar area asrama kampus karena keterbatasan ruang kamar di college internasional. Hal ini mengharuskan kami menunggu bus di pagi hari pada pukul 07.00 (dalam waktu Indonesia pukul 06.00 pagi) demi menghadiri perkuliahan. Bulan pertama merupakan masa penyesuaian yang sangat berat dalam berbagai aspek di mulai dari makanan, lingkungan sosial, tata cara berpakaian, sistem perkuliahan.

Pada tahap awal penyesuaian, kami menemukan beberapa jenis makanan yang kurang cocok di lidah seperti kue pastel berisi sarden dan ubi manis, sup ayam dengan saos tomat yang kental, rasa saos tomat yang terlalu masam, makanan dengan cita rasa kurang asin, dan ketiadaan rasa makanan berempah kuat seperti cabe rawit, bawang putih, atau bawang merah. Tidak hanya mengalami ketidakcocokan, kami juga menemukan beberapa hal yang mengejutkan pada bahan makanan, seperti besarnya ukuran ayam dan sayuran.

Lingkungan pergaulan di Unimas cukup berbeda dengan lingkungan di Pontianak terutama jika di lihat dari segi bahasa. Berbagai etnis di Sarawak lebih sering berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris ketimbang bahasa Melayu atau Mandarin. Dalam proses pembauran dengan mahasiswa lokal, kami sama sekali tidak mendapatkan kesulitan karena mereka sangat ramahdan tertarik dengan kebudayaan Indonesia. Bahkan beberapa dari mereka senang sekali menonton sinetron Indonesia dan mereka juga mengutarakan niat untuk belajar Bahasa Indonesia.

Sebagian besar komunitas mahasiswa Unimas berpakaian casual, akan tetapi ada pula yang gemar sekali berpakaian resmi misalnya memakai baju kurung. Dari segi berpakaian, kami menemukan fakta yang sangat unik yaitu mahasiswa Unimas tampil sangat sederhana sedangkan mahasiswa Untan justru berpakaian lebih modis. Hal ini akan terasa sangat kontras apabila kita membandingkan penampilan mahasiswi Unimas dan mahasiswi Untan.

Di Unimas, sistem perkuliahnnya ketat, dosen selalu datang tepat waktu, materi kuliah yang rumit, dan kondisi pada saat ujian yang sangat ketat (sekali ujian diawasi oleh beberapa orang sekaligus). Para dosen juga memberikan tugas yang cukup banyak dan rumit dengan jangka waktu yang cukup pendek. Namun demikian kami belajar untuk hidup lebih mandiri, kuat, dan bersyukur dalam segala kondisi. Kami mengambil hikmah bahwa tidak ada istilah hidup santai jika kita memutuskan untuk belajar di negeri orang. Kami menjadi tahu akan potensi yang kami miliki tidaklah kalah dengan potensi mahasiswa Malaysia.**

Sumber: Pontianak Post Online