• default style
  • blue style
  • green style
  • red style
  • orange style
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Fokus sebagai Dosen, Setiap Saat Bisa Dihubungi Mahasiswa di Kampus

on 27 Mei 2010.

Dr. Fariastuti SE, MA; Dosen Untan yang Dipinjamkan ke Unimas

Ternyata tenaga pengajar di Universitas Malaysia Sarawak (Unimas) bukanlah orang sembarangan. Mereka harus mempunyai dedikasi dan kemampuan lebih, dikarenakan sistem yang berbeda saat mengajar di Indonesia. Tak heran, dosen Indonesia yang mengajar di sana merupakan sosok yang sangat berpengalaman dan profesional.

WAHYU ISMIR,
Biro Pontianak Post Kuching

MENJADI dosen di negeri orang ternyata membawa banyak manfaat. Selain mengetahui sistem pendidikan yang baru, mengajar di luar negeri ternyata menjadi penyegaran tersendiri. Hal itulah yang membawa Dr Fariastuti SE, MA, tertarik mengajar di perguruan tinggi negeri terbesar di Sarawak, Malaysia Timur.“Saya mengajar ke sini untuk penyegaran, karena sudah lama menyelesaikan S3 pada tahun 1998. Selain itu ingin merasakan suasana akademik di universitas yang lebih maju,” ungkap wanita yang akrab disapa Tuti itu.
Sosok ramah dan aktif ini mengatakan, sebelum mengajar di Unimas, dia adalah dosen Fakultas Ekonomi Untan sejak 1987. Pada November 2008 Tuti dipinjamkan ke Unimas oleh Untan. Dia menjadi dosen di Faculty of Economics and Business (Fakulti Ekonomi dan Perniagaan), Jurusan Ilmu Ekonomi. ”Insya Allah sampai November 2011. Setelah itu akan kembali lagi ke Untan,” kata dia.
Sosok yang menyelesaikan S2 dan S3 di Australian National University ini mengatakan, perbedaan yang dirasakannya saat mengajar di Untan dan Unimas adalah tuntutan di Unimas lebih tinggi, baik dalam mengajar maupun dalam hal publikasi. Mereka dituntut fokus dalam bekerja sebagai dosen. ”Mahasiswa juga tahu haknya dan dosen dituntut memenuhi hak-hak tersebut. Di sini dosen setiap hari kerja ada di kampus dan mahasiswa konsultasi di kampus. Mahasiswa tidak susah bertemu dosen. Kerja dosen dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Tetapi hal yang biasa melihat dosen datang jauh lebih pagi atau pulang lebih malam,” tutur Tuti.
Meskipun demikian, Tuti menjelaskan, sebenarnya mutu input mahasiswa Unimas kurang lebih dengan Untan. Tetapi masalahnya di Untan, jika menerapkan standar mutu yang agak lebih tinggi dari rata-rata akan dianggap menyulitkan mahasiswa. “Padahal seharusnya dalam dunia pendidikan kita harus menggembleng mahasiswa, inputnya relatif rendah tetapi output harus relatif baik sehingga prosesnya harus dibenahi,” jelasnya.Di Unimas, lanjut Tuti, universitas tidak mau tahu, walaupun input rendah, tuntutan tetap tinggi. Sehingga lulusannya bisa dengan percaya diri berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional  tetapi juga internasional. ”Bukan tidak ada mahasiswa Untan yang seprti itu, tetapi maksud saya adalah itu lebih karena mutu personal mahasiswanya, bukan karena sistem yang baik. Sistem yang baik akan menghasilkan rata-rata lulusan dengan mutu yang baik. Kalau hanya sedikit orang, itu lebih karena individunya. Saya lihat percaya diri mahasiswa disini jauh lebih tinggi dari Untan. Terlihat sekali dari cara mereka berkomunikasi misalnya,” kata dia. Apakah ada metode di Kuching yang bisa diterapkan di Untan? Menurut wanita kelahiran Singkawang ini, banyak yang bisa diterapkan sepanjang perguruan tinggi di Indonesia dapat membangun sistem yang baik. Sistem yang baik menuntut orang bekerja secara cerdas, sistematis dan ini semua sangat memerlukan leadership yang kuat, visi yang jelas dan integritas yang tinggi. Indonesia sangat lemah dalam hal leadership dan pembangunan sistem karena lebih berorientasi pada jangka pendek dan proyek.

“Fakta menunjukkan bahwa karya ilmiah tingkat internasional Malaysia lebih tinggi dari Indonesia. Bukan karena kita tidak mampu, tetapi sistem dan leadership kita lemah. Lingkugan kita kurang mencerdaskan,” tegasnya. Meskipun demikian, Tuti melanjutkan, tidak semua perguruan tinggi di Indonesia seperti itu. Perguruan tinggi besar di Indonesia mengarah kepada perguruan tinggi yang maju. Mereka sering melakukan benchmark ke Malaysia, bukan sekedar studi banding saja, tetapi menerapkan apa yang seharusnya bisa diterapkan.  “Dosen betul-betul fokus dengan pekerjaan. Seringkali orang Indonesia menganggap itu karena gaji yang tinggi. Perlu diingat bahwa gaji tinggi tidak menjamin orang bekerja dengan baik. Sekali lagi, sistem dan leadership yang kuat mendukung itu semua. Jadi saya yakin Untan bisa maju secara hakiki sepanjang sistem dibenahi dan leadershipnya kuat (strong leadership),” pungkasnya.(*)

Arkib Berita

Universiti Malaysia Sarawak, 94300 Kota Samarahan, Sarawak, Malaysia Telephone: +60 82581000/+60 82581388, Fax: +60 82 665 088, Email: corporate@unimas.my
Copyright © 2015 Official Portal of Universiti Malaysia Sarawak. All Rights Reserved.
Tarikh terakhir kemaskini: Khamis 28 Januari 2016.

Jom Masuk U Logo MOF Logo JPA logo Malaysian Govt Picture  MSC Logo MyIDEAS Logo 1Malaysia Logo krste myhealth
Peta Laman | Penafian | Polisi | Panduan Portal | Maklum Balas | FAQ
Paparan terbaik  menggunakan  Mozilla Firefox Version versi 3+,  Microsoft Internet Explorer Versi 9+ atau Google Chrome
Laman web ini tidak menyokong paparan dalam mobile.
Untuk sebarang pertanyaan atau komen mengenai laman web ini,
HUBUNGI :- WEBMASTER(AT)UNIMAS.MY 

Tarikh terakhir kemaskini: Khamis 28 Januari 2016.

Visitors Counter : 3172615

 

Alamat e-mel ini dilindungi daripada spambots. Anda perlukan JavaScript diaktifkan untuk memaparkannya.

alexa